Setiap
masuk Ramadhan sudah pasti hati dan jiwa kita beserta jasmani kita
berasa siap untuk melakukan berbagai amalan Ibadah untuk semakin
mendekatkan diri dengan sang Khaliq kita. Serasa semua terasa ringan
dikerjakan, tadarus Quran, Tarawih, kuliah subuh, Pengajian jelang buka
puasa, kultum dan sebagainya. Masjid dan musholla pun penuh sesak
terutama di minggu pertama.
Disamping
kegiatan-kegiatan utama itu ada berbagai tradisi di berbagai daerah
untuk menyambut dan meramaikan bulan suci ini, di daerah saya misalnya,
ada beberapa tradisi diantaranya :
NYADRAN
a.k.a. Sadranan
ramai banget..
PADUSAN
Entah
bagaimana awal mula tradisi ini, yaitu kegiatan mandi sebersih-bersihnya
untuk menyambut datangnya bulan puasa. Esensi mandi ini sebenarnya yang
tidak semata-mata mandi secara lahiriah tetapi mensucikan hati dan jiwa
agar kita dalam menjalankan ibadah puasa mendapat keridhoan Allah Swt.
Yang jelas akhir-akhir ini padusan telah bergeser maknanya hanya sekedar
hura-hura di obyek wisata dengan hiburan yang sebagian besar mengandung
maksiat.
Sewaktu kecil dulu padusan bagi saya adalah jeguran di kali progo ataupun di sendang desa kami, sungguh sangat menyenangkan.
Status : masih ada
NGENTENI DHUL
a.k.a. NGABUBURIT
Ini
mungkin hanya ada di daerah saya, menunggu bom dibunyikan sebagai tanda
masuk waktu Maghrib, ya bom! Memang itu bom betulan yang dibunyikan dari
alun-alun Kota Magelang dengan dilontarkan keatas. Biasanya kami akan
berbondong-bondong ke tanggul irigasi yang disebut ‘Ngepeh‘ mungkin dulu untuk tempat menjemur [mepe] gabah sehingga disebut ngepeh.
Disini asiknya bukan main, beramai-ramai denga membawa bekal untuk
berbuka. Saat buka puasa tiba akan ada seberkas cahaya naik keatas dan
diikuti kilatan besar sesaat kemudian terdengar suara BUM.. ya itulah dhul
bagi kami. Saat melihat kilatan cahaya itulah semua berteriak.. “kae..
kae.. kae.. hore…” dan bekalpun entah apa itu sangat nikmat untuk
dilahap.
Status : sudah tidak ada lagi.
THETHEK
A.k.a. Thek-Thek
Yaitu
membunyikan alat-alat musik entah apa dengan irama untuk membangunkan
orang sahur. Saya selalu minta kepada kakak-kakak saya untuk minta
dibangunkan jam 2.00 – 2.30 untuk ikut thethek ini, kami akan
berkeliling kampung dengan membunyikan alat-alat dari kentongan, botol
minuman, kaleng, alat-2 dapur, harmonika, gendang dan lain sebagainya,
ramai sekali. Dijamin kalau kami lewat orang pasti bangun saking
kerasnya alat musik yang dimainkan ini. Tapi terkadang ada pula orang
yang jengkel sehingga suatu saat pernah kami disiram air seember ketika
lewat depan rumah seorang ibu-ibu karena belai kaget.
Status : masih ada tapi jarang
LONG BUMBUNG
A.k.a. Mercon Bambu
Hari-hari
pertama puasa biasanya kami akan berkeliling [yak-yakan] ke kebun-kebun
bambu sampai ke pinggir kali progo berburu bambu ampel yang paling
bagus untuk dibuat long bumbung. Dikatakan bagus jika bambu ampel ini
sudah tua lurus dan ruasnya panjang-panjang maka suara yang dihasilkan
akan ulem bunyinya. Cara membuatnya pun mudah. Bambu ampel ini dipotong
sekitar 3 ruas kemudian dilobangi ruas-ruasnya disisakan ruas terakhir,
kemudian pada ruas terakhir itu diberi lobang kecil untuk menyulut
mercon itu. Kemudian bambu itu diisikan dengan minyak tanah dan disulut
dengan api. Setelah bambu panas sehingga minyak di dalam juga panas
dengan tingkat kepekatan asap yang pas maka saat disulut bambu ini akan
mengeluarkan suara seperti meriam, BUM!!!
Keasikannya
adalah selama proses memanaskan bambu ini yang lumayan lama dan setiap
sulutan harus ditiup keras-keras hingga sebenarnya sungguh tidak pas
sebenarnya kalau dimainkan pas bulan puasa.. bikin lemas. Tapi namanya
anak-anak asik aja.
Status : sudah tidak ada
MEMBUAT MERCON
Kami menyebut long atau elong
setelah memasuki pertengehan Ramadhan seperti sekarang ini biasanya
kami mulai disibukkan dengan kegiatan persiapan untuk pesta mercon di
hari raya. Saya termasuk dalam geng anak-anak pembuat mercon ini meski
tugas saya adalah paling ringan yaitu memotong kertas ataupun
kadang-kadang naik pangkat untuk menggulung kertas itu dengan bambu
kecil cetakan mercon. Tugas-tugas yang lebih berbahaya semisal mengisi
bubuk mesiu dan memasang sumbu dikerjakan oleh para senior. Jan dulu
ternyata kami mirip teroris yang sedang merangkai bomb. Mercon itu
dibuat amat sangat banyak, sampai ribuan brur! Untuk selanjutnya
dirangkai / direnteng sekitar 2,5 m. biasanya akan dibuat 5 – 8 renteng
dengan berbagai ukuran. Mercon renteng ini dinyalakan pas di hari
lebaran saat ramai-ramainya orang pulang dari ziarah kubur dan mulai
ujung-ujungan.
Status : sudah tidak ada, kalau masih ada bisa-bisa dianggap koncone noordin m top berabe..
SELIKURAN
Untuk menyambut datangnya lailatul qodar biasanya didaerah saya diadakan acara tirakatan di malam ke-21 ramadhan, inilah selikuran.
Bagi kami anak-anak selikuran adalah ajang mengetes mercon yang telah
dibuat. Biasanya setelah acara makan-makan usai kami akan menderet
mercon tester ini di sepanjang jalan menuju musholla kemudian dibunyikan
bersama-sama. Di malam selikuran ini juga biasanya kami membuat balon
dari plastik yang dilas sampai sebesar mobil minibus, ya.. besar memang
balon itu nanti dilepaskan beramai-ramai dan tentu saja digantung mercon
dan kembang api tetes disana. Lalu bagaimana cara membunyikan mercon
dan kembang api tetes itu di atas sana. Ternyata mudah saja bro, cukup
diujung sumbu mercon renteng itu dikasih garet [kertas pembungkus rokok
lintingan] yang halus, namanya dulu garet melawan entah
sekarang masih ada atau tidak, garet ini dilinting secara kasar dan
disulut sekira nanti pas di jarak tertentu yang diinginkan garet ini
habis dan mercon + kembang api tetes menyala. Pernahkan anda melihat
kembang api tetes menyala di langit gelap? Wuah… hebat sekali rasanya
berhasil menyalakan waktu itu. Membuat ini memerlukan eksperiman yang
tidak main-main tentang bentuk balon seperti apa yang paling stabil naik
ke atas? Bahan plastik apa yang paling baik, membuat asep yang
bagaimana dan dari bahan apa? [asep merupakan bola api yang dipasang
dimulut balon untuk memanaskan udara didalam balon sehingga balon bisa
naik ke atas], dsb. Master pembuat balon ini ditempat saya ada dua orang
namanya yang satu Remit [miftah] dan Yasin [yang ini ponakan saya
sekarang jadi amtenar di ujung timur jawa].
Status : sudah tidak ada
TEBIR
A.k.a. Takbiran
Kalau tradisi ini tentu dimanapun ada saya kira. Berkeliling kota sambil mengumandangkan takbir maupun di musholla dan masjid.
Status : masih ada
UJUNG
Rasanya
tidak lengkap kalau tradisi ini juga tidak dibahas sekaligus. Ujung
alias saling bermaaf-maafan dengan mendatangi rumah-rumah satu persatu,
yang muda mendatangi yang tua. Sajian pun nggladrah, mau makan apa saja
ada, setiap orang sumringah, pakaian semua baru, pesta mercon sepuasnya,
kantong penuh uang saku, saudara-saudara semua berkumpul. Sungguh
rasanya tidak ada kebahagian yang melebihi kebahagiaan hari lebaran ini.
No comments:
Post a Comment