Thursday, July 19, 2012

Hapus virus dengan “attrib -h -r -s”

Mungkin kamu pernah punya masalah dengan virus dari flashdisk (FD) yang membuat data-data kamu hilang entah kemana. Masalahnya mungkin seperti ini, begitu colok FD trus kamu klick foldernya, eh… terus komputer nge-hang dan data kamu semuanya hilang (ke-hidden).
Jangan kaget, itu semua adalah kerjaannya virus klasik tapi nyebelin bernama
autorun.inf atau saudaranya boot.exe atau saudaranya lagi msvdm.dll.
Sebenarnya data kamu itu nggak hilang, hanya ke-hidden oleh virus itu. Nah, jadi jangan
panik dulu, ada solusinya koq tenang aja…
Di postingan kali ini, gua akan sedikit berbagi gimana caranya antisipasi virus tadi, supanya nggak masuk dan ngerusak PC atau data-data di FD kamu. Sebenarnya caranya simple aja, kamu cukup pake program command promp(cmd) dan menggunakan fungsi attrib (attribut) yang udah ada di OS kamu. OK langsung aja, kira-kira gini caranya.
Sebelumnya, cara ini dilakukan dengan catatan PC kamu masih dalam kondisi normal. Artinya, kamu belum pernah meng-klick Flashdisk kamu yang diindikasi terkena virus autorun.inf. Karena jika PC/ laptop kamu udah terjangkit virus ini, maka perlakuannya berbeda. Ok
Jadi, kasus dan langkah antisipasi di bawah ini berlaku saat “kamu habis colok FD di PC lain, dan ternyata pas dicolok dan di klick 2 kali, data-data kamu hilang. Nah untuk menanggulanginya kamu harus pindah ke PC/ laptop lain yg masih bersih dari Virus ini untuk melakukan langkah di bawah. Check this out….
1. Antisipasi pertama, saat kamu colok FD kamu, maka akan muncul tawaran menu “What do u want Windows to do?”, menu atau tawaran itu jangan di pilih, cancel aja! Karena, begitu kamu memilih/ membuka folder dari menu itu, maka secara otomatis virus yag ada di FD kamu akan menjalankan misi jahatnya (menyerang PC/ laptop kamu). So…jangan di-klick atau dibuka dulu…
menu-autorun
2. Setelah kamu cancel, langsung aja buka program command promp. Cara gampangnya, pilih Start -> Run -> ketik cmd -> OK. Atau shortcardnya Windows + r, ketik cmd. Setelah itu kamu akan masuk ke layar hitam dengan kursor berkedip.
cmd
3. Terus, masuk ke direktori/ alamat/ ruang FD kamu. Sebelumnya kamu harus tau dulu FD kamu berada pada urutan abjad hardware apa? Apakah E, F, H, I, atau J. Kamu bisa liat abjad itu dengan meng-explore My Computer “tapi ingat, jangan sampai meng-klick FD kamu” liat aja abjadnya.
Anggaplah FD kamu uruta abjad I. Cara masuk ke FD kamu yaitu ketik i: -> enter, atau I: -> enter. Besar – kecil abjad tidak jadi masalah.
direktori-i
4. Setelah itu, akan muncul i:\>, itu tandanya kamu udah masuk ke ruangang FD kamu tanpa membuka atau meng-klick-nya. Nah, dari sini perintah attrib bisa dijalankan. Ketik aj attrib -> enter. Langkah ini berguna untuk menampilkan file-file bebas yang berada di luar folder. Jadi misalkan kamu nyimpan file-file yang nggak kamu masukan ke folder, maka dengan fungsi ini akan kelihatan.
04
5. Setelah itu, akan muncul sederetan nama-nama file beserta ekstensinya. Nah, dari sini keberadaan virus itu bisa kita lacak. Kita bisa melacak apakah file tersebut virus atau bukan yaitu dengan mencirikan:
a. Ada tulisan SHR di depan nama filenya. Misal ada sebuah file namanya SHR autorun.inf. Ternyata pas kita inget-inget, kita ga pernah ngerasa nyimpen nih file. Nah… maka file itu bisa diindikasi sebagai virus. Atau file yg namanaya SHR boot.exe. Kalau kita ngerasa ga pernah nyimpen, maka itu pun bisa diindikasi dengan virus.
05
b. Extensinya berupa .exe. Misalkan file MS Word kita yang awalnya (file.doc) eh malah jadi (file.exe). Maka itu bisa diindikasi sebagai virus atau file yang terkena virus.
c. Dan file-file dengan nama yang asing atau aneh lainnya, yang kita nggak merasa pernah simpan.
6. Setelah itu, langkah selanjutnya adalah menghilangkan sistem SHR-nya. Kenapa musti dihilangkan? Karena, kalau sistem SHR nggak dihilangkan dulu, maka file itu nggak bisa dihapus karena terbaca System Hidden Files. Nah, cara menghilangkannya dengan mengetik attrib <spasi> -h <spasi> -r <spasi> -s (attrib -h -r -s) -> enter. Urutannya boleh kebalik, nggak harus -h duluan, terserah. Fungsi itu akan menghapus sistem hidden, read-only dan super hidden file-file bebas kamu tadi.
06
7. Kemudian ketik attrib lagi, untuk men-cek apakah sistem SHR tadi udah hilang atau belum! Kalau SHR udah hilang, berarti virus itu udah siap kita musnahkan. Tapi kalau belum hilang, berarti bisa dipastikan PC atau Laptop kamu, udah terjangkit oleh virus itu. Maaf ya, kalau PCnya udah kena virus itu.
07
8. Kemudian, kalau SHR bisa atau udah hilang, maka langkah selanjutnya adalah dengan men-delete file aslinya. Caranya gampang: ketik del <spasi> <nama filenya> misal (del msvdm.dll atau del autorun.inf) -> enter. Atau gampangnya lagi ketik: del <spasi> ketik abjad pertama “m” dari nama file kamu <ketik Tab>, secara otomatis akan menampilkan nama file kamu secara lengkap. Setelah itu enter. Contohnya del autorun.inf -> enter.
08
9. Selanjutnya, biasanya virus autorun.inf itu membawa folder/ file database-nya. File itu dimuat dalam folder RECYCLER. Biasanya juga, folder ini sifatnya di Super Hidden. Di dalam folder ini mungkin terdapat database virus yang cukup berbahaya jika nggak dihapus. Tapi sebenarnya, kalau kita udah hapus induknya (autorun.inf) databasenya ga bertingkah. Tapi tetap kita ambil langkah penghapusan. Nah langkah penghapusan ini sebagai berikut ketik rmdir<spasi>/s<spasi>RECYCLER -> enter -> yes. Lengkapnya I:\>rmdir /s RECYCLER -> enter -> yes.
Lakukan hal yang sama pada file-file lain yang diindikasi sebagai virus.
Selesai.
Kemudian dari situ, bisa dipastikan 75% FD kamu udah aman dari virus. Cara diatas bisa dipake bagi mereka yang males scan-scan FD pake antivirus. Atau bagi mereka yg pengen cepet untuk bisa tau apakah FD-nya ada virusnya.
OK. Gampang kan…selamat mencoba. Dan silahkan saja ditanyakan, jika ada langkah yang belum dimengerti.
Terima Kasih…
DILARANG KERAS untuk tidak menyebarluaskan ilmu ini kepada orang lain. karena orang yang nanti pas mati pahalanya ga putus2 adalah orang yang meninggalkan/ mengajarkan ilmu yang bermanfaat kepada orang lain. OK

Monday, July 9, 2012

TRADISI DI SEPUTAR RAMADHAN DAHULU DAN SEKARANG

Setiap masuk Ramadhan sudah pasti hati dan jiwa kita beserta jasmani kita berasa siap untuk melakukan berbagai amalan Ibadah untuk semakin mendekatkan diri dengan sang Khaliq kita. Serasa semua terasa ringan dikerjakan, tadarus Quran, Tarawih, kuliah subuh, Pengajian jelang buka puasa, kultum dan sebagainya. Masjid dan musholla pun penuh sesak terutama di minggu pertama.
Disamping kegiatan-kegiatan utama itu ada berbagai tradisi di berbagai daerah untuk menyambut dan meramaikan bulan suci ini, di daerah saya misalnya, ada beberapa tradisi diantaranya :
NYADRAN
a.k.a. Sadranan
ramai banget..
ramai banget..
Tradisi ini adalah warisan dari nenek moyang dulu katanya, dari jaman Hindu sudah ada tradisi Nyadran ini, sampai kemudian masuknya agama Islam tradisi ini beradaptasi. Adalah kegiatan ziarah kubur bersama-sama seluruh kampung pada hari-hari mendekati Ramadhan. Kampung serasa ramai sekali pas nyadran ini. Kerabat dari jauh datang untuk katanya birrul walidain, mendoakan para leluhur yang sudah meninggal dan bersih kubur. Asiknya, setelah acara nyadran di makam selesai dilanjutkan Kembul Bujono Tumpengan di Musholla terdekat… nasi tumpeng pun segera ludes karena memang rasanya uenak pol, padahal ya biasa aja Cuma sego kluban to. Tapi karena dimakan bersama-sama jadi berasa nikmat.

PADUSAN
Entah bagaimana awal mula tradisi ini, yaitu kegiatan mandi sebersih-bersihnya untuk menyambut datangnya bulan puasa. Esensi mandi ini sebenarnya yang tidak semata-mata mandi secara lahiriah tetapi mensucikan hati dan jiwa agar kita dalam menjalankan ibadah puasa mendapat keridhoan Allah Swt. Yang jelas akhir-akhir ini padusan telah bergeser maknanya hanya sekedar hura-hura di obyek wisata dengan hiburan yang sebagian besar mengandung maksiat.
Sewaktu kecil dulu padusan bagi saya adalah jeguran di kali progo ataupun di sendang desa kami, sungguh sangat menyenangkan.
Status : masih ada
NGENTENI DHUL
a.k.a. NGABUBURIT
Ini mungkin hanya ada di daerah saya, menunggu bom dibunyikan sebagai tanda masuk waktu Maghrib, ya bom! Memang itu bom betulan yang dibunyikan dari alun-alun Kota Magelang dengan dilontarkan keatas. Biasanya kami akan berbondong-bondong ke tanggul irigasi yang disebut ‘Ngepeh‘ mungkin dulu untuk tempat menjemur [mepe] gabah sehingga disebut ngepeh. Disini asiknya bukan main, beramai-ramai denga membawa bekal untuk berbuka. Saat buka puasa tiba akan ada seberkas cahaya naik keatas dan diikuti kilatan besar sesaat kemudian terdengar suara BUM.. ya itulah dhul bagi kami. Saat melihat kilatan cahaya itulah semua berteriak.. “kae.. kae.. kae.. hore…” dan bekalpun entah apa itu sangat nikmat untuk dilahap.
Status : sudah tidak ada lagi.
THETHEK
A.k.a. Thek-Thek
Yaitu membunyikan alat-alat musik entah apa dengan irama untuk membangunkan orang sahur. Saya selalu minta kepada kakak-kakak saya untuk minta dibangunkan jam 2.00 – 2.30 untuk ikut thethek ini, kami akan berkeliling kampung dengan membunyikan alat-alat dari kentongan, botol minuman, kaleng, alat-2 dapur, harmonika, gendang dan lain sebagainya, ramai sekali. Dijamin kalau kami lewat orang pasti bangun saking kerasnya alat musik yang dimainkan ini. Tapi terkadang ada pula orang yang jengkel sehingga suatu saat pernah kami disiram air seember ketika lewat depan rumah seorang ibu-ibu karena belai kaget.
Status : masih ada tapi jarang
LONG BUMBUNG
A.k.a. Mercon Bambu
Hari-hari pertama puasa biasanya kami akan berkeliling [yak-yakan] ke kebun-kebun bambu sampai ke pinggir kali progo berburu bambu ampel yang paling bagus untuk dibuat long bumbung. Dikatakan bagus jika bambu ampel ini sudah tua lurus dan ruasnya panjang-panjang maka suara yang dihasilkan akan ulem bunyinya. Cara membuatnya pun mudah. Bambu ampel ini dipotong sekitar 3 ruas kemudian dilobangi ruas-ruasnya disisakan ruas terakhir, kemudian pada ruas terakhir itu diberi lobang kecil untuk menyulut mercon itu. Kemudian bambu itu diisikan dengan minyak tanah dan disulut dengan api. Setelah bambu panas sehingga minyak di dalam juga panas dengan tingkat kepekatan asap yang pas maka saat disulut bambu ini akan mengeluarkan suara seperti meriam, BUM!!!
source : http://danakitri.multiply.com/journal/item/121/perang_mercon

Keasikannya adalah selama proses memanaskan bambu ini yang lumayan lama dan setiap sulutan harus ditiup keras-keras hingga sebenarnya sungguh tidak pas sebenarnya kalau dimainkan pas bulan puasa.. bikin lemas. Tapi namanya anak-anak asik aja.
Status : sudah tidak ada
MEMBUAT MERCON
Kami menyebut long atau elong setelah memasuki pertengehan Ramadhan seperti sekarang ini biasanya kami mulai disibukkan dengan kegiatan persiapan untuk pesta mercon di hari raya. Saya termasuk dalam geng anak-anak pembuat mercon ini meski tugas saya adalah paling ringan yaitu memotong kertas ataupun kadang-kadang naik pangkat untuk menggulung kertas itu dengan bambu kecil cetakan mercon. Tugas-tugas yang lebih berbahaya semisal mengisi bubuk mesiu dan memasang sumbu dikerjakan oleh para senior. Jan dulu ternyata kami mirip teroris yang sedang merangkai bomb. Mercon itu dibuat amat sangat banyak, sampai ribuan brur! Untuk selanjutnya dirangkai / direnteng sekitar 2,5 m. biasanya akan dibuat 5 – 8 renteng dengan berbagai ukuran. Mercon renteng ini dinyalakan pas di hari lebaran saat ramai-ramainya orang pulang dari ziarah kubur dan mulai ujung-ujungan.
Status : sudah tidak ada, kalau masih ada bisa-bisa dianggap koncone noordin m top berabe..
SELIKURAN
Untuk menyambut datangnya lailatul qodar biasanya didaerah saya diadakan acara tirakatan di malam ke-21 ramadhan, inilah selikuran. Bagi kami anak-anak selikuran adalah ajang mengetes mercon yang telah dibuat. Biasanya setelah acara makan-makan usai kami akan menderet mercon tester ini di sepanjang jalan menuju musholla kemudian dibunyikan bersama-sama. Di malam selikuran ini juga biasanya kami membuat balon dari plastik yang dilas sampai sebesar mobil minibus, ya.. besar memang balon itu nanti dilepaskan beramai-ramai dan tentu saja digantung mercon dan kembang api tetes disana. Lalu bagaimana cara membunyikan mercon dan kembang api tetes itu di atas sana. Ternyata mudah saja bro, cukup diujung sumbu mercon renteng itu dikasih garet [kertas pembungkus rokok lintingan] yang halus, namanya dulu garet melawan entah sekarang masih ada atau tidak, garet ini dilinting secara kasar dan disulut sekira nanti pas di jarak tertentu yang diinginkan garet ini habis dan mercon + kembang api tetes menyala. Pernahkan anda melihat kembang api tetes menyala di langit gelap? Wuah… hebat sekali rasanya berhasil menyalakan waktu itu. Membuat ini memerlukan eksperiman yang tidak main-main tentang bentuk balon seperti apa yang paling stabil naik ke atas? Bahan plastik apa yang paling baik, membuat asep yang bagaimana dan dari bahan apa? [asep merupakan bola api yang dipasang dimulut balon untuk memanaskan udara didalam balon sehingga balon bisa naik ke atas], dsb. Master pembuat balon ini ditempat saya ada dua orang namanya yang satu Remit [miftah] dan Yasin [yang ini ponakan saya sekarang jadi amtenar di ujung timur jawa].
Status : sudah tidak ada
TEBIR
A.k.a. Takbiran
Kalau tradisi ini tentu dimanapun ada saya kira. Berkeliling kota sambil mengumandangkan takbir maupun di musholla dan masjid.
Status : masih ada
UJUNG
Rasanya tidak lengkap kalau tradisi ini juga tidak dibahas sekaligus. Ujung alias saling bermaaf-maafan dengan mendatangi rumah-rumah satu persatu, yang muda mendatangi yang tua. Sajian pun nggladrah, mau makan apa saja ada, setiap orang sumringah, pakaian semua baru, pesta mercon sepuasnya, kantong penuh uang saku, saudara-saudara semua berkumpul. Sungguh rasanya tidak ada kebahagian yang melebihi kebahagiaan hari lebaran ini.
Itulah diantara beberapa tradisi mengasikkan di dalam bulan ramadhan. Akhirnya mari berharap Ramadhan ini dapat memberi pencerahan bagi kita sehingga cahaya Ramadhan tetap bersinar di jiwa sampai setahun kedepan….

CARA MEMBUAT ROTI ‘ISY (PITA BREAD)

Bagi ente2 yang pernah tinggal di Timur Tengah, khususnya Mesir, tentu tahu betul sama roti yang satu ini. Bentuknya bulan, rasanya hambar tapi enak, dimakan bersama daging, kari, salad, fuul dan lain sebagainya. Kalau di Mesir biasa di sebut ‘isy atau khubz, di Saudi disebut Tamis dengan sedikit perbedaan bentuk.
Nah, kalau sudah di Indo, kan susah mencari roti ini, paling cuma ada di Jakarta. Atau bisa didapat di restoran Arab (salah satunya Restoran Al-Jazeera di Cikini)
Nah, tapi kan sayang kalau jauh2 ke Jakarta cuma buat nyari roti ini… padahal ente2 udah kangen sekali pingin makan ‘isy pakai fuul (baru dapat kiriman fuul amrikana dari Kairo) … Mending buat sendiri di rumah. Gimana bahan dan caranya?? Catat nih yang berikut ini:
Isy Fakhir
Isy Fakhir
Bahan-bahan :
  1. tepung terigu 250 gram
  2. bread atau ragi instan 7 gram
  3. garam 5 gram
  4. yoghurt (kayaknya kalau diganti susu cair juga nggak masalah) 1 sendok makan
  5. air es 150 ml
Cara Membuat  :
  1. Campur semua bahan, tuang air sedikit demi sedikit sambil diaduk hingga adonan kalis (tercampur rata). Lalu ente diamkan selama 30 menit.
  2. Potong dan timbang adonan seberat 30 gram, bulatkan. Diamkan kembali selama 15 menit.
  3. Gilas adonan hingga tipis/pipih… jangan gilas pakai batu, tapi pakai penggilas roti… masa nggak tahu….
  4. Panggang adonan dalam oven bersuhu 220°C (pakai microwave juga bisa) atau dipanggang di atas wajan anti lengket hingga matang dan berwarna kecokelatan. Angkat dan sajikan bareng fuul kesayangan ente…
Selamat mencoba!

Bung Karno

BHINNEKA TUNGGAL IKA. Bung Karno beramah tamah dengan Paus Johannes XXIII (Kardinal Angelo Giuseppe Roncalli) saat mengunjungi Vatikan pada 14 Mei 1959. “Bukan saja bangsa Indonesia bertuhan, tetapi masing-masing orang Indonesia hendaknya bertuhan. Tuhannya sendiri.” Bung Karno, Lahirnya Pancasila, 1 Juni 1945.

Bung Karno

MENYEMBAH KEPADA TUHAN. Bung Karno sedang berdoa usai sholat di sebuah mesjid di Washington D.C, Amerika Serikat pada Mei 1956. Tampak dalam foto yang diabadikan oleh fotografer majalah Life, Roeslan Abdul Gani, Menteri Luar Negeri (1956 -1957). “Karena itu dengan keyakinan saya berkata, Negara yang tidak menyembah kepada Tuhan, Negara yang tidak bertuhan, akhirnya celaka, lenyap dari muka bumi ini”. Temukan Kembali Api Islam. Pidato BK saat menerima gelar Doctor Honoris Causa dalam Ilmu Ushuluddin Jurusan Dakwan dari IAIN, Jakarta, pada 2 Desember 1964.

Bung Karno

TINGGALKAN PIKIRAN KOLOT. Bung Karno pakai stelan safari putih, di papan tulis tertera huruf e pepak, pada awal 50an. “Mari kita maju melompat, mari kita tinggalkan pikiran-pikiran kolot, mari kita banting stir, banting stir – karena tidak ada kemungkinan lain, karena jalan lain yang lebih mudah dan lebih aman tidaklah ada.” Bung Karno, Berdikari, 11 April 65.

Bung Karno

SOAL PANGAN. Bung Karno dan rombongan melepas lelah sambil memandang persawahan saat berkunjung ke Parepare, Sulawesi Selatan, pada tahun 1958. “...Jadilah pahlawan pembangunan! Jadikanlah bangsamu ini bangsa yang kuat, bangsa yang merdeka dalam arti merdeka yang sebenar-benarnya! Buat apa kita Bicara tentang “politik bebas” kalau kita tidak bebas dalam urusan beras, yaitu selalu harus minta tolong beli beras dari bangsa-bangsa tetangga? BK, Peletakkan batu pertama Gedung Fakultas Pertanian Bogor, 27 April 1952
"Bismillaahirrahmaanirrahiim..
. Ketiadaan harta itu tampak dalam sikap manusia itu seperti meminta belas kasih dan pertolongan manusia lain." (Al-Hikam)

Sunday, July 8, 2012

DOA IJAZAH RASULULLAH SAW KEPADA SHAHABAT ABU BAKAR ASH-SHIDDIEQ R.A.


اللهم إني ظلمت نفسي ظلما كثيرا ولا يغفر الذنوب إلا أنت فاغفر لي مغفرة من عندك وارحمني إنك أنت الغفور الرحيم
Allahumma innii zhalamtu nafsi zhulman katsiiran walaa yaghfirudz-dzunuuba illaa Anta faghfir lii maghfiratan min ‘indika warhamnii, innaKa Anatal Ghafuurur Rahiim.
(Ya Allah ya Tuhanku, aku sunggu telah banyak ‘menganiaya’ diriku sendiri dan tidak ada yang dapat mengampuni dosa kecuali Engkau; maka berilah ampunan kepadaku ampunan dari sisiMu dan kasihilah aku. Sungguh Engkaulah Sang Maha Pengampun dan Maha Pengasih).
Dibaca dalam shalat, ketika sujud.

Mohamad Roem, Pemimpin Tanpa Dendam

Semua tergelak ketika  ketiga pasang capres mengatakan, Susilo Bambang Yudhoyono dan Megawati Soekarnoputri berjabat tangan dengan mesra. Maklumlah, semua tahu, kedua capres ini sudah cukup lama tak bertegur sapa. Berkaca pada para pemimpin masa lalu, agaknya sikap itu kurang pas, tidak menampakkan sikap kenegarawanan. Dosen Filsafat Universitas Indonesia, Rocky Gerung, pernah mengatakan, Presiden Soekarno menanggapi kritik pedas Sutan Sjahrir dengan mengatakan, ”Kalau saya rotan, rotan itu melengkung, tetapi tidak patah.” Para pemimpin itu memiliki kecerdasan hingga mampu membuat metafora.

Kecerdasan seperti itu pun menjadi milik Mohamad Roem, Menteri Luar Negeri Indonesia dalam kabinet Natsir. Ia tidak pernah menyimpan dendam kepada Soekarno yang telah memenjarakannya di Madiun. Ia memang menyebut Soekarno oligarkis dan feodal.

Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda mengatakan, dalam pertemuannya dengan Mohamad Roem, Hassan sempat menanyakan apakah Roem sakit hati saat dipenjarakan Soekarno. Jawaban Roem kala itu, dalam politik, menang atau kalah merupakan hal biasa. Perbedaan tajam tidak pernah menghalangi hubungan baik antarpribadi.

Sebagai diplomat, kala itu, Mohamad Roem memang tidak semenonjol Sutan Sjahrir. Ia bukanlah pemikir seperti Sjahrir. Namun, perannya dalam kemerdekaan Indonesia tidak kecil.

Perjanjian antara Pemerintah Indonesia dan Belanda yang kemudian dikenal dengan Perjanjian Roem-Roijen adalah sebagian kecil dari kiprahnya di dunia diplomasi. Perjanjian tersebut menjadi tapak penting bagi lahirnya perjanjian Meja Bundar di Den Haag, Belanda. Perjanjian tersebut telah mengantarkan lahirnya pengakuan Belanda atas kemerdekaan Indonesia.

Upaya kerasnya dalam berdiplomasi mengantarkan Indonesia dalam ruang kemerdekaan. Meski pada satu masa Soekarno memenjarakannya, tidak pernah sedetik pun ia menyimpan dendam kepada proklamator itu. Ia berani mengambil risiko dan tetap berjiwa besar, ciri yang selayaknya dimiliki para pemimpin Indonesia saat ini jika mereka ingin menjadi negarawan.  

Komentar Pak Rushdy Hoesein Tentang Mohammad Roem  

Roem memang tidak mendendam, tapi dia tidak pernah melupakan peristiwa ketika Roem dan teman-temanya (termasuk Sjahrir, Natsir, Sjafrudin dan lain-lain) tahun 1962 dipenjarakan Soekarno di Madiun. Tidak terlepas dari itu, masih selalu muncul pertanyaan, kenapa mereka tidak diadili.
Soal Diplomasi, mungkin benar Roem tidak sekaliber Sjahrir, tapi dia tidak berada dibawah Sjahrir. Roem orang hebat karena diplomat tulen. Karirnya dimulai sejak diangkat sebagai ketua KNI daerah Jakarta Serptember 1945, dia bersama Soewirjo berunding dengan Kempetai agar pemerintah pendudukan mengizinkan dilanjutkannya “Rapat Raksasa Ikada 19 September 1945″. Dan Jepang terpaksa menyetujuinya karena olehnya dijelaskan hanya Soekarno yang bisa membubarkan rakyat yang sudah berkumpul sejak subuh di lapang Ikada yang sebanyak 200.000 orang itu.

Dirinya pernah ditembak Belanda di rumahnya di Kwitang sehingga cacat sampai akhir hayatnya. Dirinya terpilih menjadi Menteri dalam kabinet Sjahrir ke III tahun 1946 dan diangkat menjadi delegasi Indonesia dalam perundingan Linggajati. Dalam perundingan sebagaimana tertulis dalam notulen, dirinya ikut berdebat secara sengit. Pasal-pasal yang menyangkut hukum tatanegara bersama Soesanto Tirtoprodjo dan Amir Sjarifudin secara cermat diperhatikan agar jangan lolos menguntungkan Belanda. Namun demikian sungguh berat baginya karena harus membela Linggajati dari serangan partainya sendiri, Masyumi yang anti Linggajati.

Dirinyalah satu-satunya anggota delegasi yang langsung protes karena pada tanggal 12 November 1946 malam dalam kunjungan delegasi Belanda yang dipimpin Prof. Schermerhorn guna menghadap Soekarno, tiba-tiba Soekarno menyetujui naskah Linggajati padahal masih perlu dirundingkan lebih lanjut. Roem juga terpilh sebagai diplomat dalam perundingan Renville, pernyataan bersama (bukan perundingan) antara Mohammad Roem dan Van Roijen serta Roem adalah anggota delegasi utama yang dipimpin Hatta dalam Konperensi Meja Bundar. Setelah itu Roem adalah ketua Komite pembentukan pemerintahan RIS dan yang paling bergengsi, sesuai hasil KMB, Roemlah yang diangkat sebagai Komisaris Agung pertama di Den Haag Belanda.

Dalam zaman Soeharo, mungkin yang tidak juga dilupakannya adalah saat musyawarah Parmusi di Malang tahun 1968, dimana pemerintah Orde Baru tidak sudi kalau Partai itu dipimpin Roem dan Sek.Jen Lukman Harun. Perjalanan sejarah akhirnya menempatkan tokoh diplomat tua ini benar-benar istirahat di bidang politik sampai akhir hayatnya. Beliau wafat tanggal 24 September 1983 dalam usia 75 tahun.

Dirinya adalah salah seorang murid dari H.Agus Salim. Sebagai jebolan Jong Islammieten Bond, sumpah setianya pada Partai Masjumi tanpa akhir.

Siapa Mohammad Roem ?

Dalam catatan sejarah nasional, nama tokoh ini sangat mencuat di akhir tahun 1940-an. Waktu itu Mr Mohammad Roem diamanahi oleh Pemerintah Republik Indonesia sebagai ketua tim juru runding RI dalam perundingan dengan Belanda. Tim juru runding dari Belanda diketuai Van Royen. Akhirnya perundingan yang berlangsung pada tanggal 14 April 1949 itu diberi nama “Perundingan Roem-Royen”.

Mohammad Roem lahir di Desa Klewongan, Kecamatan Parakan, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah pada tanggal 16 Mei 1908. Ia lahir sebagai anak keenam dari tujuh bersaudara. Ayahnya bernama Djulkarnaen Jayasasmito, ibunya bernama Siti Tarbiyah.

Pendidikannya dimulai di Volkschool (Sekolah Rakyat, sekolah dasar di masa Belanda) di desa kelahirannya. Ia kemudian melanjutkan ke HIS (Holland Inlandsche School) Temanggung sampai kelas III, dan diteruskan ke HIS Pekalongan. Dan tamat dari HIS Pekalongan pada tahun 1924.

Semangat perjuangannya mulai bersemi sejak di HIS. Kisahnya bermula tatkala seorang gurunya yang berkebangsaan Belanda menghardik Roem, “Zeg, Inlander!”. Dasar pribumi, begitu kira-kira artinya.

Roem sangat tersinggung dihardik demikian. Sebagai orang pribumi ia merasa dirinya dihina dan dilecehkan. Ia kemudian teringat sejumlah papan larangan di gedung-gedung bioskop, di rumah makan, dan lain-lain tempat yang mengharamkan orang pribumi masuk.

Penghinaan itu belum selesai. Diwaktu istirahat ada seorang murid Belanda yang mendorong-dorong tubuh Roem sambil mengolok-olok, “Inlander! Inlander!” Akibat dorongan itu Roem jatuh terjerembab. Tapi ia segera bangkit lalu dikejarnya anak Belanda itu. Setelah tertangkap ditinjunya perut si anak bule itu hingga muntah-muntah.

Peristiwa itu sangat membekas pada diri Roem. Ia kemudian bertekad untuk memerdekakan bangsanya agar tak lagi dihina bangsa asing. Untuk mewujudkan niatnya itu sambil bersekolah Roem kemudian bergabung dengan organisasi Jong Java (Pemuda Jawa).

Mula-mula Roem bersemangat di kelompok pemuda itu. Namun belakangan ia tidak betah berada di lingkungan Jong Java, karena aspirasi Islam tidak tertampung di situ, ia bersama Syamsuridjal dan beberapa tokoh lainnya memilih keluar, lalu pada tahun 1925 mendirikan Jong Islamieten Bond (JIB) atau Himpunan Pemuda Islam.

Dalam JIB ini Roem dipercaya menjadi salah seorang anggota pimpinan pusatnya. Kemudian pada tahun 1930 ia menjadi ketua Panitia Kongres JIB di Jakarta. Ketika JIB membentuk kepanduan (Natipij) ia menjadi ketua umumnya.

Pada tahun 1930 Roem tamat dari Algemene Middlebare School (AMS) atau sekolah menengah atas. Ia kemudian melanjutkan sekolah ke Rechts Hoge School (RHS) atau Sekolah Tinggi Hukum. Dari perguruan tinggi tersebut ia berhasil meraih gelar Mester in de Rechten (Mr) atau Sarjana Hukum pada tahun 1939. Skripsinya tentang Hukum Adat Minangkabau.

Sambil kuliah dan mengurus JIB, Roem aktif di Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII). Pada tahun 1932 ia menjadi ketua Panitia Kongres PSII di Jakarta. Ketika terjadi kemelut di PSII, ia bersama-sama Haji Agus Salim keluar dari partai tersebut dan mendirikan PSII-Penyadar. Dalam partai baru tersebut ia menjadi Ketua Komite Centraal Executif (Lajnah Tanfidziyah).

Kemelut itu terjadi karena PSII dalam pandangan Roem lebih menekankan pada aspek politik sementara tujuan dasar SI, yaitu memajukan perekonomian bumiputera, tidak diperhatikan lagi. Syarikat Islam juga tidak memperhatikan lagi masalah pendidikan agama Islam atau pengkaderan.

Untuk mengamalkan ilmu hukumnya, Roem membuka kantor pengacara (advokat) di Jakarta. Sebagian di antara organisasi yang mempercayakan jasa kepengacaraannya adalah Rumah Piatu Muslim di Jakarta dan Perhimpunan Dagang Indonesia (Perdi) di Purwokerto.

Pada masa pendudukan Jepang (1942-1945), Roem dipercaya sebagai Ketua Muda “Barisan Hizbullah” di Jakarta. Barisan Hizbullah adalah organisasi semi-militer di bawah naungan Masyumi.

Dalam Muktamar Masyumi tahun 1947 diputuskan bahwa ummat Islam harus ikut berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Negara Islam Indonesia tidak akan tegak kalau Indonesia belum merdeka, itulah alasannya. Oleh karena itulah para pimpinan dan anggota Masyumi berjuang mati-matian mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Apalagi setelah ada fatwa wajib jihad kepada seluruh umat Islam dari Hadratus Syaikh K.H. Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdhatul Ulama yang juga salah seorang pendiri Masyumi.

Mohammad Roem-pun berjihad mati-matian mempertahankan kemerdekaan Indonesia, utamanya melalui jalur perundingan/diplomasi. Sikapnya untuk selalu menghargai pendapat orang lain meski berbeda dengan pendapatnya, menunjang keberhasilannya sebagai diplomat.

Oleh Pemerintahan Soekarno ia mendapat amanah menjadi angota tim juru runding RI dalam perundingan Renville 17 Januari 1948. Kemudian, seperti telah disinggung di atas, Roem diangkat sebagai ketua juru runding RI dalam perundingan Roem-Royen pada tanggal 14 April 1949.

Perundingan tersebut dinilai berhasil karena telah mendorong segera terselenggaranya Konferensi Meja Bundar dan pengakuan kedaulatan RI oleh Belanda tahun 1949.

Di masa berikutnya Roem pernah menjabat sebagai menteri dalam negeri dalam kabinet Natsir (1950-1953) serta pernah juga menjadi wakil perdana menteri dalam kabinet Ali Sastroamijoyo (1956-1957).

Pada masa Demokrasi Terpimpin, terjadi konflik antara Masyumi dengan Presiden Soekarno. Apalagi kemudian beberapa pemimpin Partai Masyumi, seperti Natsir bergabung dalam pemberontak PRRI.

Sejak Partai Masyumi membubarkan diri, karena dipaksa Soekarno, pada tanggal 17 Agustus 1960, Roem tidak lagi memegang jabatan di pemerintahan. Ia kemudian memusatkan perhatian pada penulisan buku dan penelitian sejarah perpolitikan di Indonesia serta bidang ilmiah lainnya.

Kegiatan ini tidak berjalan lancar, karena pada tanggal 16 Januari 1962, ia bersama-sama dengan beberapa tokoh Masyumi dan PSI ditahan pemerintah tanpa pengadilan. Mereka dituduh oleh Pemerintahan Presiden Sukarno terlibat peristiwa Cendrawasih, yakni peristiwa percobaan pembunuhan terhadap Presiden Sukarno di Makassar.

Roem dan kawan-kawan bisa keluar dari tahanan pada tahun 1966 setelah pemerintahan Soekarno goyang usai pemberontakan PKI tahun 1965. Selepas dari penjara kegiatan menulis buku dan penelitian diteruskan kembali. Salah satu kesibukannya antara lain menjadi Wakil Ketua Dewan Kurator Sekolah Tinggi Kedokteran Islam Jakarta pada tahun 1971.

Pada tahun 1969 Roem sempat hampir kembali ke kancah politik setelah terpilih sebagai ketua Partai Muslimin Indonesia (Parmusi). Ini adalah partai ‘jelmaan’ Masyumi yang didirikan oleh para mantan kader Masyumi.

Sayangnya Soeharto, presiden waktu itu, tidak menyetujui. Soeharto khawatir, jika dipimpin Roem, Parmusi bisa menjadi partai besar seperti Masyumi dulu, hingga menyaingi Golkar. Atas desakan pemerintah, terpaksa Roem batal jadi Ketua Parmusi, digantikan oleh Djarnawi Hadikusumo.

Sejak itu Roem betul-betul undur diri dari dunia politik praktis. Kemudian bersama-sama M Natsir dan kawan-kawan mantan kader Masyumi lainnya mendirikan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) di tahun 1970-an. Di tempat inilah kakek dari Adi Sasono ini berkhidmat bersama para warga Bulan Bintang.

Sejak itu Roem aktif dalam berbagai fora Islam internasional, antara lain menjadi anggota Dewan Eksekutif Muktamar Alam Islami (1975), Member of Board Asian Conference of Religion for Peace di Singapura (1977) serta menjadi anggota Konferensi Menteri-Menteri Luar Negeri Islam di Tripoli (1977).

Meski begitu perhatiannya pada perkembangan Islam di tanah air tidak juga berkurang. Suat ketika Amien Rais dalam wawancaranya dengan majalah Panji Masyarakat (no 379/1982) menyatakan tidak ada negara Islam dalam Al-Quran dan As-Sunnah, “Oleh karena itu tidak ada perintah dalam Islam untuk menegakkan negara Islam,” kata Amien Rais.

Atas pandangan Amien itu kemudian Roem mengirimkan tanggapan ke majalah yang sama. Roem membenarkan, bahwa memang tidak ada negara Islam dalam nama, namun secara substansial ada. “…Pada akhir hayat Nabi, pada saat Surat Al-Maidah ayat 3 diwahyukan, maka sudah tumbuh sebuah masyarakat yang dibangun oleh dan di bawah kepemimpinan Nabi sendiri, yang tidak diberi nama khusu oleh Nabi, akan tetapi sudah mempunyai ciri-ciri sebagai negara, sedang hukumnya oleh Tuhan sudah dinamakan sempurna… Saya rasa selama tidak lebih dari tiga bulan itu di dunia pernah ada ‘Negara Islam’ atau Islamic State, tidak dalam nama, melainkan dalam substance, dalam hakikatnya.”

Sesudah itu Nurcholish Madjid yang sedang berada di Chicago menyuratinya, sehingga berlangsung korespondensi antara mereka berdua selama beberapa bulan. Setelah korespondensi berakhir, Mohammad Roem dipanggil ke hadhirat Allah pada tanggal 24 September 1983.

Pada tahun 1997 kumpulan korespondensi itu plus wawancara Amien Rais dengan majalah Panji Masyarakat serta tanggapan Roem dibukukan dan diterbitkan oleh Adi Sasono, lalu diberi judul “Tidak Ada Negara Islam; Surat-surat Politik Nurcholish Madjid-Mohammad Roem”.

Judul buku itu jelas menyesatkan, seolah-olah Roem menafikan keberadaan negara Islam. Padahal sesungguhnya, sebagaimana kutipan di atas, Roem mengakui pernah ada negara Islam, meski tidak dinamakan Negara Islam, yakni pemerintahan yang dipimpin oleh Rasulullah Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam.

**dari beberapa sumber

Kisah Lucu

Suatu hari, KH Wahab Chasbullah mengajak KH Bisri Syansuri bersilaturahim kepada beberapa kyai di Jawa Timur. Ditemani seorang sopir dan seorang santri, berangkatlah dua kyai besar itu.
Tujuan pertama ditetapkan ke Kediri, lalu Nganjuk, baru ke Surabaya dan sekitarnya.
Untuk sarapan, mereka tidak khawatir karena Kediri dan Nganjuk dekat, dan pasti tuan rumah akan menyiapkan makanan.

Dalam perjalanan pulang ke Jombang, Mbah Wahab menyuruh sopirnya berhenti di warung pinggir jalan.

Kemudian Mbah Wahab mengajak Mbah Bisri ke warung. Sudah pasti Mbah Bisri tidak mau, meskipun sebenarnya lapar. Mbah Wahab pun sebenarnya paham dengan sikap Mbah Bisri yang wira’i. Hanya ingin menggoda saja.
Akhirnya Mbah Bisri tinggal di mobil sendirian. Sementara tiga orang pergi makan di warung. Tapi diam-diam Mbah Bisri pesan ke santrinya.

“Heh.. bungkusno siji yo…” pintanya.

“Inggih (iya) Mbah,” si santri pelan menjawab.

Ketika Mbah Wahab dan sopir makan, si santri diam-diam mengantar nasi untuk Mbah Bisri. Ia pun langsung makan.

Belum selesai Mbah Bisri makan, Mbah Wahab dan sopirnya sudah berdiri tegak di samping mobil.

“Lho… katanya nggak mau?” tanya Mbah Wahab sambil senyum-senyum.

“Aku kan nggak mau ke warungnya tapi mau nasi bungkusnya. Kyai kok nongkrong di warung?” timpal Mbah Bisri enteng. Mbah Wahab hanya tersenyum-senyum.

KOPIAH

Kopiah adalah tutup kepala yang terbuat dari beludru warna gelap dengan ketinggian antara 6 sampai 12 Cm. Dari segi bentuk merupakan modifikasi antara torbus Turki dengan peci India. Di tempat lain kopiah juga disebut sebagai songkok ada juga yang menyebut peci. Kopia ini sudah cukup lama dipakai oleh masyarakat Islam Nusantara terutama kalangan pesantren.

Dikisahkan bahwa seorang santri Sunan Giri Gresik dikenal sebagai raja cengkeh, karena kalau pulang ke kampung halamannya Maluku selalu membawa kopiah, sambil menyiarkan Islam di daerah yang dulu dikenal dengan nama Hitu itu membawa kopiah, setiap sebuah kopiah diganti oleh masyarakat setempat dengan cengkih yang banyak sekali, sehingga ketika kembali ke pesantren Giri santri tersebut membawa cengkih yang amat banyak, yang sangat laku di Gresik. Demikian juga santri Giri yang pulang ke daerah asalnya juga selalu membawa kopiah, sehingga tutup kepala yang satu ini menyebar di seluruh penjuru Nusantara.

Kalangan Islam pesantren mewajibkan tidak hanya kalangan santri tapi pemeluk Islam pada umumnya untuk selalu memakai tutup kepala yang digunakan sebagai bentuk kewiraian atau kezuhudan seseorang, atau minimal sebagai bentuk kelaziman. Kitab Ta’limulmuta’alim misalnya sangat menekankan untuk selalu memakai tutup kepala dalam kehidupan. Oleh pesantren tidak diterjemahkandalam bentuk sorban atau tutup kepala lainnya, tetapi diwujudkan dalam bentuk kopiah.

Oleh karena itu santri tidak pernah melepas peci, demikian juga saat menjalankan sembahyang masyarakat Islam selalu menggunakan kopiah, dianggap kurang utama bila menangalkannya. Bahkan santri yang berani menanggalkan kopiah disebut dengan santri gundul (tidak memakai tutup kepala) dan itu kemudian diidentikkan dengan santri badung yang sering melangar tatakrama, aturan dan pelajaran. Dengan demikian salah satu bentuk tradisi pesantren adalah tradisi memakai kopiah hingga saat ini, walaupun beberapa pesantren modern mulai meningalkannya.

Penggunaan kopiah sebagai identitas kiai itu semakin marak sejalan dengana semakin meluasnya Islam baik oleh para wali dan ulama maupun kiai di berbagai tempat, sehingga mereka yang sudah santri itu meneguhkan identitasnya dengan emakai kopiah berwarna hitam itu. Ada kesepakatan tidak tertulis bahwa bagi santr atau orang Islam yang belum menunaikan ibadah haji tidak diperkenankan memakai peci haji. Karena itu bila ada orang belum haji tentu sangat malu dan dicela ketika memakai peci haji warna putih. Mereka itu tahu adat dengan demikian mereka tetap mengunakan peci hitam.

Pada awal pergerakan Nasional 1908 kebanyakan para aktivis masih memakai destar dan tutup kepala blangkon, yang lebih dekat ke tradisi priyayi dan aristokrat, tetapi seiring dengan meluasnya gerakan sama rata sama rasa dan penolakan terhadap feodalisme termasuk dalam berpakaian dan berbahasa, yang menolak bahasa kromo, sebagaimana yang dikembangkan oleh Tjokroaminoto aktivis Sarekat Islam (SI) yang berasal dari Madiun dan bermarkas di Surabaya yang merupakan kota santri. Sehari-hari Cokro menakai tradisi ini. Dengan sendirinya penampilan tokoh idola yang selalu berkopiah itu menjadi anutan kaum pergerakan baik yang santri dan kalangan priyayi. Apalagi para murid Cokro sendiri termasuk Soekarno yang dulunya masih memakai blangkon kini turut memakai kopiah.

Sejak saat itu kopiah yang semula merupakan tradisi pesantren dijadikan sebagai songkok nasional atau kopiah nasional, sebagai identitas nasional yang dipelopori oleh kaum pergerakan. Sebagai orator yang ulung Soekarno tampil sebagai peraganya sendiri, yang tampil sangat prima dan mempesona, karena itu para aktivis dan priyayi mulai menggunakan kopiah, tidak hanya sebagai simbol Islamisme tetapi juga sekaligus sebagai simbol patriotisme dan nasionalisme, yang berbeda dengan para priyayi atau para ambtenar yang menjadi kolaborator Belanda.

Pada Muktamar NU ke 10 di Banjarmasin, di mana NU mulai sangat aktif melibatkan diri dalam merespon perkembangan dunia luar baik nasional maupun internasional. Saat itu NU mengakui Nasioalisme Hindia Belanda itu, pada saat yang sama membolehkan warganya untuk memakai pantalon, asal masih memakai kopiah, agar identitas kesantriannya masih tampak, sehingga masih bia dibedakan dengan kolonial Belanda.

Kaum pergerakan yang dalam acara resmi baik rapat maupun perundingan selalu memakai peci. Kebiasaan itu berkembang menjadi kelaziman yang tidak pernah ditinggalkan, karena itu bila ada ada tokoh yang tidak memakai kopiah pasti menjadi rasanan para aktivis lainnya. Ketika Muhammad Hatta mewakili Indonesia dalam Konfrensi Meja Bundar di Den Hag, 27 Desember 1949, Hatta digunjing oleh para aktivis lainnya sebagai blootshoofd (tanpa kopiah), sehingga ciri khas Keindonesiaannya tidak ditampilkan, yang diharapkan bisa memberi garis tegas antara nasionalisme dan kolonialisme.

Bung Karno adalah salah seorang penghobi berat kopiah, karena itu ia memilih bahas sendiri untuk pembuatan kopiah dengan beludru terbaik dari luar negeri. Biasanya bila kelihatan kopiah menteri atau koleganya telah lusuh diberinya bahn beludru itu untuk dibawa ke penjait khusus. Bahkan ketika kekuasannya telah diujung tandauk ia masih tenag bersama KH Saifuddin Zuhri berbincang tentang identitas nasional itu. Sewaktu pulang kiai itu diberi dua meter beludru yang menurut Bung karno bisa digunakan untuk membuat enam buah kopiah.

Selama masa Indonesia merdeka sampai akhir orde baru kopiah yang telah menjadi identitas nasional dipakai oleh semua pejabat tinggi negara dalam acara resmi. Termasuk para kontingen olah raga atau Paskibraka, bahkan wanitapun memakai kopiah. Presiden atau menteri dalam kunjungan ke luar negeri selalu menampakkan identitas ini. Tetapi setelah reformasi, terutama ketika liberalisme telah merambah dalam kesadaran beberapa pejabat termasuk presiden, tidak lagi menggunakan kopiah dalam acara resmi.

Walaupun kopiah telah menjadi identitas nasional dipakai siapa saja baik abangan, kalangan priyayi termasuk pengikut agama non Islam, teapi Kopiah masih menjadi identitas kesantrian yang kuat, sebab dalam kopiah di lingkunagn ini menjadi pakaian sehari-hari, setidaknya untuk sembahyang. Karena itu industri kopiah di Nusantara ini masih dikuasai kalangan santri dan tumbuh di kota-kota santri yang berbasisi nahdliyin.

Sejak zaman Sunan Giri hingga saat ini Gresik tetap terdepan dalam industri kopiah, hal itu kemudian diikuti beberapa kota lain seperti Kudus, Pekalongan Tasik dan sebagainya. Saat ini produsen kopiah terkenal adalah Awing, Muslimin selain itu juga banyak produk yang lebih rendah yang diproduksi dalam rumah tangga tanpa merek Ini menunukkan bahwa identitas nasional itu masih dijaga oleh para santri dan pengrajin di masyarakat. (Mun’im DZ, Suwadi DP)